“Pengamen Kereta Idola
“Lagi, Drama Kehidupan Penentu Juara Indonesian Idol” (JP, 3/8 hal 15)
Itulah headline yang ditulis oleh harian Jawa Pos, tentang kemenangan Aris, seorang pengamen KRL di ajang Indonesian Idol. Drama kehidupan ini nampaknya masih menjadi salah satu asset bagi media untuk menjual acara mereka, khususnya ‘menjual’ sosok individu yang ada didalamnya. Saya yang baru 2 kali nonton Indonesian Idol musim ini (Grand Final dan Result) pun langsung tahu siapa sosok kedua grand finalis itu. Nggak hanya di Idol saja, tapi nampaknya hampir semua ajang pencarian bakat, drama kehidupan selalu terekspos dengan berbagai macam cara. Kita lihat pada saat grand final (27/7), bagaimana sosok badut Yono memberikan testimoni pengalaman hidup Gisel. Dan yang paling nampak adalah di ajang Idol beberapa musim lalu, saat berulangkali ibu Mike disorot oleh kamera, karena Mike pernah mengungkapkan betapa ia menyayangi ibunya. Satu pertanyaan saya, sebenarnya perlukah drama ini diekspos sedemikian sering sampai terkadang 'mengalahkan' kemampuan vokal yang sebenarnya dicari oleh ajang pencarian bakat itu?
Idola, dapat dikatakan sebagi seorang model yang pantas untuk dikagumi, entah karena kemampuan, penampilan, maupun kepribadian yang mereka miliki. Ketiga hal inilah yang coba dipenuhi oleh media untuk ‘menciptakan’ idola bagi masyarakat. Faktor kemampuan dan penampilan nampaknya bukan menjadi soal bagi media, karena keduanya selalu terekspos dan tampak pada setiap tayangan yang ada, meskipun penampilan kadang masih ‘dibantu’ oleh sapuan kuas para make-up artist. Sedangkan faktor kepribadian, seringkali tidak tampak hanya dengan menggelar tayangan konser – konser seperti itu. Faktor ini kemudian digali melalui kisah hidup masing – masing kontestan yang kemudian akan menjadi bagian citra diri mereka. Dengan lengkapnya ketiga faktor ini, media mulai ‘menciptakan’ citra diri masing – masing kontestan untuk selanjutnya dijual pada masyarakat.
Penjualan citra diri kontestan ini, dapat dikatakan merupakan salah satu senjata psikologis media untuk meraih keuntungan. Dengan mengekspos citra masing – masing kontestan, maka pikiran masyarakat akan sedikit termanipulasi dan memberikan dukungan agar kontestan itu dapat tetap berada di panggung dan memenuhi harapan mereka untuk memutar roda nasib. Dengan semakin banyaknya pikiran yang termanipulasi, maka keuntungan yang diraih media dan partnernya (yang membuka line voting) melalui pengiriman voting, baik lewat telepon maupun SMS akan semakin besar juga. Jadi akhirnya pencitraan yang dilakukan melalui penggalian drama hidup ini kembali lagi pada urusan duit. :b
Ah... lama - lama jadi enggan lihat acara yang cuma jual cerita hidup kontestan kaya gini..
1 komentar:
Aris memang layak menjadi yang terbaik.
Posting Komentar