Berulang kali kita merasakan dalam diri kita sendiri, sebuah perasaan kurang puas terhadap apa yang kita miliki saat ini. Kita terkadang merasa berkekurangan dengan apa yang ada dalam diri kita. Terkadang kita merasa kalo saya ini kurang tampan/cantik, keluarga saya kurang bisa memenuhi keinginan saya, pacar saya kurang seksi, dan seterusnya kata “kurang” yang terus berputar dalam otak kita. Hal ini kadang membuat kita menuntut orang lain untuk melakukan hal yang “lebih” dari yang pernah mereka berikan pada kita. Kita juga mungkin merasa menyesal terhadap diri kita sendiri dengan segala keterbatasan yang kita miliki itu. Kita kadang berpikir bahwa, kenapa aku tidak sekaya dia, kenapa aku tidak setampan dia, kenapa aku tidak bisa seperti dirinya, dan begitu banyak hal lain yang membuat diri kita serasa lemah bila dibandingkan orang lain. ]
Mendongakkan Kepala, Ga Capek?
Coba sekarang dongakkin kepalamu setengah jam aja, capek nggak? Capek kan. Nah kita seringkali bertindak seperti itu. Kita seringkali mendongakkan kepala kita dengan melihat kondisi orang – orang yang berada diatas kita. Sebenarnya dengan sikap itu, hanya akan menambah beban bagi diri sendiri dan mungkin, orang tua yang masih men-support kebutuhan kita saat ini. Hal itu hanya akan bikin kita capek mikir gimana untuk bisa seperti orang lain itu, kita akan selalu merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini. Kita juga terkadang merasa tidak puas dengan kelebihan yang kita miliki, terlebih terhadap dengan kekurangan yang kita miliki. Selalu saja kita berandai – andai, andai aku lebih pinter, andai keluargaku lebih kaya, andai karyawanku lebih rajin, dan andai – andai yang lainnya.
Tundukkan Kepala, Renungkan Hidup
Mungkin ini yang jarang banget kita lakukan saat ini, apalagi dengan kondisi sosial kita yang lebih ngehargain seorang yang “bersinar”. Tapi terkadang kita juga perlu untuk nundukin kepala kita, untuk ngeliat kondisi orang – orang yang ada dibawah kita. Dengan demikian, kita akan lebih rendah hati dan menerima apa yang kita miliki saat ini. Kita akan lebih jarang lagi meminta hal – hal yang tinggi, yang sulit untuk kita penuhin, dan akan jadi beban yang bikin capek. Dengan nundukkin kepala, kita juga bisa lebih mensyukuri apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Kita akan lebih bisa mensyukuri kehidupan yang sudah Tuhan kasih buat diri kita. Dengan nundukkin kepala, akan jarang lagi kita dengar, “andai keluargaku lebih kaya” tapi kita akan lebih sering mendengar “Untung keluargaku diberi kehidupan yang cukup, tidak berlebih dan tidak kurang”. Dengan menundukkan kepala, kita akan lebih dapat menjalani hidup ini tanpa beban yang berlebihan (hidup itu gak mungkin tanpa beban, jadi jangan ditambahin lah). Kita akan lebih bisa menghargai diri sendiri dan orang lain disekitar kita. Kita juga bisa lebih menghargai apa yang kita punya, dan memanfaatkannya dengan baik untuk menunjang hidup kita.
Mendongak Capek, Nunduk Juga (Bisa) Capek
Apa yang ada dunia ini memang dapat kita ambil dan direfleksikan dalam kehidupan yang kita jalanin. Kita lihat saja, orang yang terlalu lama mendongakkan kepalanya keatas kadang merasa capek di lehernya. Begitu pula bila kita terlalu sering menundukkan kepala, bisa – bisa kita tidak tahu apa yang ada didepan kita. Apa artinya ini?
Fenomena ini mengajarka kita agar hendaknya mensyukuri kehidupan kita yang sekarang, tidak terlalu melihat orang – orang yang kondisinya dibawah kita, ataupun melihat mereka yang berada diatas kita. Bila melihat orang yang kondisinya diatas kita, maka kita akan dikejar perasaan tidak puas terhadap kondisi kita saat ini dan tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan dalam hidup. Membuat kita terbeban dan tidak fokus untuk menjalani kehidupan kita yang ada saat ini. Membuat kita hidup dalam dunia “andai” dan khayalan yang tidak berakhir.
Bila kita juga terlalu lama melihat orang yang kondisinya berada dibawah kita, maka kita akan terlena dengan kondisi kita saat ini dan tidak mau berusaha untuk mempertahankan hidup. Kita merasa bahwa saya tidak perlu berusaha untuk memperoleh prestasi, tidak perlu untuk mengerahkan semua kemampuan yang saya punya dan tidak terpacu untuk memperoleh presati yang lebih baik. Kita akan terlena dan hidup yang meremehkan semua permasalahan yang ada.
Dengan melihat apa yang ada didepan mata kita, kita akan lebih tidak mudah capek. Namun demikian, kita juga perlu untuk sesekali mendongakkan kepala sekedar sebagai motivasi bagi kita untuk bekerja, berusaha, dan berprestasi lebih baik. Namun, bila diri sudah termotivasi, maka kita juga hendaknya perlu untuk melihat kebawah, untuk mensyukuri apa yang sudah kita raih selama ini, dan tidak hidup dalam dunia yang penuh "andai"
Salam, Wid.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar